Menyikapi Lingkungan yang Buruk
Seorang bijak mengatakan, "setinggi dan sekokoh apapun kita mendirikan
benteng utk menghadang air bah, maka akan roboh juga. Maka ajarilah anak
untuk berenang atau membuat perahunya sendiri"
Orang bijak lain
mengatakan, "jadilah seperti ikan hidup di laut yang tak pernah asin
walau setiap hari berenang di laut. Janganlah menjadi seperti ikan mati,
yang menjadi asin hanya direndam air garam beberapa hari".
Apa maknanya?
Hidupkanlah fitrah anak anak kita, maka mereka akan melayari kehidupan
ini dengan sebaik baiknya. Fitrah yang hidup dinamis bagai air sungai
yang mengalir, bening dan jernih, menyehatkan sekitarnya. Namun
sebaliknya, fitrah yang redup ibarat sungai yang tdk mengalir, menjadi
tempat sarang nyamuk dan penyakit juga sampah.
Bagaimana teknisnya agar tidak terpapar lingkungan yang buruk?
1. Usia 0-6 tahun, ini masa paling rentan, maka lingkungan sebaiknya
cukup steril. Karenanya bersosialisasi terbaik adalah dengan orangtua
dan keluarga dekat, dengan asumsi bhw orangtua dan keluarga terdekat
mustahil merusak. Bersosialisasi di tahap ini justru dengan menguatkan
fitrah individualitasnya, misalnya memuaskan ego sentrisnya, mengakui
sifat uniknya dstnya. Anak yang dipenuhi hak hak individualitasnya di
usia ini, kelak akan menunaikan kewajiban sosialnya termasuk kokoh
fitrah sosialitasnya seperti suka bersosial, suka berbagi, tidak mudah
dibully, percaya diri untuk mengendalikan lingkungannya dstnya
2.
Usia 7-10 tahun, ini masa dimana anak dianggap sdh mulai kokoh
konsepsinya ttg Allah, ttg dirinya, ttg orangtuanya, ttg alam dstnya.
Mereka sdh memerlukan sosial yang lebih luas dari di rumah. Maka
lingkungan yang tidak terlalu buruk, tidak mengapa, justru baik untuk
menguatkan imunitas. Pastikan kedekatan ayah bunda dengan ananda,
sehingga selalu menjadi rujukan dalam setiap masalah perilaku yang
dipapar oleh lingkungan. Tentu saja jika lingkungan amat buruk, maka
wajib hijrah.
3. Usia 11-14 tahun, ini sebenarnya tahap ujian,
jadi ananda perlu diuji keimanannya, bakatnya, gairah belajarnya dll
dengan dibenturkan pada kehidupan nyata. Latih mereka utk banyak idea
atau inovatif, kemauan menjadi da'i (penyeru kebenaran), menjadi problem
solver (nadziro) sekaligus solution maker (bashiro) dalam lingkungan
yang seperti apapun. Ini tahap tega dengan membenturkan pd kehidupan.
Ayahlah sang raja tega, namun Bundalah sang pembasuh luka.
Sulit
rasanya bagi Ummat ini melahirkan pemimpin yang solutif, jika selalu
memberikan lingkungan yang steril, mengirimkan ke boarding school dengan
maksud menyembunyikan anak dari realitas sosial Ummat ini.
Rasulullah SAW bahkan memberi ucapan selamat kepada para Ghuroba
(almarhum M.Natsir menyebutnya Perintis) yaitu mereka yang memperbaiki
sunnah Beliau di tengah kerusakan Ummatnya.
Dalam banyak kasus,
pada tahap ini, anak anak yang sudah mantab mengenal fitrah dirinya,
maka tiada kekhawatiran dengannya. Misalnya internet dan gadget, alih
alih dimusuhi, baginya hanyalah perangkat untuk mengakses banyak
pengetahuan yang relevan untuk inovasi, berdiskusi dengan Murobby dan
Maestro, membangun jaringan dan berkolaborasi, memasarkan karya atau
product dsbnya.
Sebagai catatan, 90% masalah anak sesungguhnya
bukan dari luar rumah, justru dari dalam rumah. Obsesi orangtua,
kecanduan menggegas dan menitipkan anak dsbnya menjadi penyebab
cideranya atau menyimpangnya fitrah ananda.
Salam Pendidikan Peradaban
Komentar
Posting Komentar